Setiap perguruan tinggi memiliki perjalanan panjang. Ada pemimpin yang datang, bekerja, meninggalkan gagasan, lalu menyerahkan amanah kepada generasi berikutnya. Begitu pula dengan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
UMSU tidak tumbuh dalam waktu singkat. Sejak berdiri pada 27 Februari 1957, UMSU berkembang melalui berbagai fase kepemimpinan, tantangan, dan perubahan zaman. Setiap rektor memiliki peran masing-masing dalam membangun fondasi, memperkuat akademik, mengembangkan kelembagaan hingga membawa UMSU menghadapi tuntutan pendidikan tinggi modern.
Karena itu, pergantian rektor seharusnya dipandang sebagai bagian dari estafet perjuangan, bukan sebagai akhir dari sebuah perjalanan.
Setiap Zaman Memiliki Tantangan
Salah satu fase penting dalam sejarah UMSU tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan Dr. H. Dalmy Iskandar. Memimpin sejak awal dekade 1980-an hingga 1999, ia berada pada situasi sosial dan politik yang tentu berbeda dengan kondisi saat ini.
Pada masa tersebut, UMSU terus mengembangkan kehidupan akademik, kemahasiswaan, dan fasilitas pendidikan. Sejumlah tokoh nasional juga pernah hadir di lingkungan kampus.
Hal ini menunjukkan bahwa membangun perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik. Kepemimpinan juga membutuhkan jejaring, komunikasi, kepercayaan, dan kemampuan membaca peluang sesuai dengan tuntutan zamannya.
Setelah itu, estafet kepemimpinan terus berlanjut kepada tokoh-tokoh berikutnya.
Prof. Agussani dan Fase Perkembangan UMSU
Dalam perjalanan UMSU era kontemporer, Prof. Dr. Agussani, M.AP. menjadi salah satu figur penting. Selama memimpin pada 2010–2026, UMSU melewati berbagai perubahan dalam dunia pendidikan tinggi dan terus memperkuat kelembagaan, akademik, sumber daya manusia, serta tata kelola.
Enam belas tahun merupakan perjalanan panjang. Berbagai keberhasilan dan tantangan yang muncul selama periode tersebut menjadi bagian dari sejarah institusi.
Kini jabatan rektor telah berpindah. Namun, pengabdian Prof. Agussani tetap berlanjut melalui perannya sebagai Ketua Panitia Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-49 di Sumatera Utara.
Di sini terlihat bahwa pergantian jabatan tidak harus berarti berhentinya pengabdian.
Prof. Akrim dan Babak Baru
Tongkat estafet kepemimpinan UMSU kini berada di tangan Prof. Dr. Akrim, M.Pd. Regenerasi ini menjadi bagian penting bagi perjalanan UMSU ke depan.
Sebagai rektor baru, Prof. Akrim menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Digitalisasi, kecerdasan buatan, perubahan dunia kerja, internasionalisasi, riset, dan inovasi menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi.
UMSU tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah. Kampus harus mampu melahirkan manusia yang berintegritas, kritis, adaptif, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Muktamar dan Masa Depan Kampus IV
Pergantian kepemimpinan UMSU juga berlangsung bersamaan dengan persiapan Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Sumatera Utara.
Kampus IV UMSU di Desa Sientis, Deli Serdang, memiliki posisi penting karena dipersiapkan sebagai lokasi kegiatan Muktamar sekaligus bagian dari pengembangan masa depan UMSU.
Muktamar memang menjadi agenda besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, sehingga keberhasilannya merupakan tanggung jawab bersama. UMSU memiliki peran strategis, tetapi semangat kebersamaan seluruh unsur persyarikatan tetap menjadi kekuatan utama.
Institusi Harus Lebih Besar dari Figur
Dalam perjalanan sebuah organisasi, pergantian pemimpin merupakan sesuatu yang wajar. Yang tidak boleh berhenti adalah perjuangannya.
Kita boleh menghargai jasa setiap rektor. Namun, jangan sampai institusi bergantung kepada satu figur. Muhammadiyah memiliki tradisi yang menempatkan perjuangan, kaderisasi, ilmu, dan amal usaha di atas kepentingan pribadi.
Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya seberapa lama ia menjabat atau seberapa sering namanya disebut. Lebih penting lagi adalah seberapa kuat fondasi yang ia tinggalkan untuk dilanjutkan generasi berikutnya.
Rektor berganti, tetapi UMSU harus terus bergerak.
Generasi berganti, tetapi semangat mencerdaskan bangsa harus tetap hidup.
Sebab UMSU bukan milik satu rektor atau satu generasi. Ia adalah amanah yang harus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.





